Artikel GAKOPSYAH
PERINTAH MENUNAIKAN AMANAH
Kamis, 22 November 2018
PERINTAH MENUNAIKAN AMANAH

Dari Abu Khubaib; Abdullah bin Az-Zubair r.a. berkata, “Ketika Az-Zubair berdiri pada hari perang Jamal, ia memanggilku lalu aku pun berdiri di sampingnya. Ia berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya pada hari ini tidak ada seorang pun yang terbunuh melainkan orang yang zalim atau orang dizalimi. Sesunguhnya, aku merasa bahwa aku akan dibunuh pada hari ini sebagai seorang yang dizalimi. Sesungguhnya salah satu kesusahanku yang terbesar adalah hutangku. Apakah engkau menyangka bahwa hutangku masih menyisakan harta walau sedikit?’

Kemudian Az-Zubair melanjutkan ucapannya, ‘Hai anakku, juallah apa yang kita miliki dan lunasilah seluruh hutangku.’ Az-Zubair mewasiatkan sepertiga hartanya, dan sepertiga dari sepertiga diperuntukkan anak-anak Abdullah. Maksudnya bagi putera-putera Abdullah bin Az-Zubair ialah sepersembilan bagian. Az-Zubair berkata,’Jika masih ada kelebihan dari harta kita setelah digunakan melunasi hutang, maka yang sepertiga dari sepertiga adalah untuk anak-anakmu.’

Hisyam berkata,’Anak Abdullah ada yang menentang anak-anaknya Az-Zubair, yakni Khubaib dan ‘Abad, sedang Az-Zubair pada hari itu mempunyai Sembilan orang anak lelaki dan Sembilan orang anak perempuan.’

Abdullah bin Az-Zubair berkata, “Lalu Az-Zubair mewasiatkan kepadaku perihal hutangnya dan ia berkata, ‘Hai anakku, jika engkau merasa tidak mampu untuk melunasi hutangku, maka mintalah pertolongan kepada Zat Yang menguasai diriku!’

Abdullah berkata, “Demi Allah, saya tidak mengetahui apa yang dimaksud olehnya, sehingga saya berkata : “wahai ayahku siapakah yang ayah ini?” Ia menjawab : “Allah.” Abdullah berkata : “Maka demi Allah, tiada satu waktupun saya merasa jatuh dalam kesusahan karena memikirkan hutang ayahku melainkan saya selalu berdoa, ‘Wahai Zat Yang menguasai Az-Zubair, tunaikanlah hutang Az-Zubair ini!” Akhirnya ia dapat melunasi hutangnya.

Abdullah mengatakan : “Setelah itu terbunuhlah Az-Zubair, dan ia tidak meninggalkan dinar ataupun dirham, kecuali beberapa bidang tanah di Ghobah, sebelas buah rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, satu buah rumah di Kufah dan sebuah rumah di Mesir.

Hutang itu disebabkan seseorang yang datang dengan membawa harta dan menitipkan kepadanya, kemudian Az- Zubair berkata : “Tidak, saya tidak senang dititipi, khawatir kalau hilang, tetapi saya hutang saja.” Sebenarnyalah Az- Zubair tidak pernah menjadi petugas penarik pajak, dan ia selalu ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Ustman ra. Lanjutnya, setelah saya hitung ternyata saya mempunyai hutang dua juta dua ratus ribu.”

Kali tertentu Abdullah bin Hizam bertemu dengan Abdullah bin Az-Zubair dan berkata : “Wahai keponakanku, berapakah hutang saudaraku?” Saya sembunyikan dan saya mengatakan : “Seratus ribu.” Hakim berkata : “Demi Allah, saya tidak tahu apakah engkau dapat melunasinya ?” Abdullah berkata : “Bagaimana pendapatmu apabila hutangnya mencapai dua juta dua ratus ribu ?” Ia menjawab : “Saya tidak tahu apakah kamu dapat melunasinya atau tidak, jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah bantuan kepadaku.”

Menurut Abdullah : “Az-Zubair dulu membeli tanah Al-Ahobah seharga seratus tujuh puluh ribu.” Abdullah bermaksud untuk menjualnya seharga satu juta enam ratus ribu, kemudian ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang menghutangi Az- Zubair, maka saya akan melunasinya, dan datanglah kepada kami di Ghobah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far ra., ia menghutangi Zubair sebanyak empat ratus ribu, dan ia berkata kepada Abdullah : “Kalau kamu mau, saya tidak akan menagihnya kepadamu.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau kamu suka, lunasilah belakangan.”

Abdullah bin Zubair berkata : “Tidak.” Abdullah bin Ja’far menjawab : “Kalau begitu berilah saya sebagian tanah di Ghobah ini.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau begitu, kamu mendapat bagian dari sini sampai sini.” Abdullah kemudian menjual sisa hutan itu untuk melunasi hutang ayahnya dan masih tersisa empat setengah bagian. Kemudian ia datang ke tempat Mu’awiyah. Waktu itu di tempat Mu’awiyah ada beberapa orang, yaitu ‘Amr bin Utsman, Al-Mundzir bin Zubair dan Ibnu Zam’ah. Mu’awiyah pun bertanya kepada Abdullah : “Hutan itu dijual berapa?” Abdullah menjawab : “Setiap bagian seratus ribu.” Mu’awiyah bertanya : “Masih tersisa berapa ?”

Abdullah menjawab : “Masih tersisa empat setengah bagian.” Al-Mundzir bin Zubair berkata : “Kalau begitu saya mengambil sebagian dengan harga seratus ribu.” Demikian pula dengan Ibnu Zam’ah : “Saya mengambil sebagian dari seratus ribu.” Kemudian Mu’awiyah bertanya : “Masih sisa berapa ?”

Abdullah menjawab : “Masih tersisa satu setengah bagian.” Mu’awiyah berkata : “Saya yang mengambilnya dengan harga seratus lima puluh ribu.” Kemudian Abdullah bin Ja’far menjual bagiannya kepada Mu’awiyah dengan harga enam ratus ribu. Setelah Abdullah bin Zubair selesai melunasi hutang ayahnya, maka putri-putri Az-Zubair berkata : “Bagilah warisan kami.”

Abdullah menjawab : “Demi Allah, saya membagi untuk kalian sebelum empat tahun, sebab pada setiap musim, saya akan menyiarkan siapa saja yang menghutangi Zubair hendaknya datang kepada kami, dan kami pasti akan melunasinya. Demikianlah, pada setiap tahunnya Abdullah menyiarkannya. Sesudah melewati empat tahun maka Abdullah membagi harta warisan itu dan mengambil sepertiga yang diwasiatkan. Dan Az-Zubair meninggalkan empat istri, masing-masing mendapat bagian satu juta dua ratus ribu. Jadi semua kekayaan Az-Zubair berjumlah lima puluh juta dua ratus ribu.” (HR.Bukhari)  




Pesan :
Hadits ini menjelaskan keagungan amanat dan sesungguhnya orang yang mengambil harta orang lain dan berniat hendak menunaikannya, maka Allah akan memberikan jalan untuk menunaikannya dan sesungguhnya orang yang meminta pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya.

Adaptasi : Buku Imam Nawawi "Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya"

Artikel Lainnya
Mengenal Cryptocurrency Bitcoin di Antara Pro dan Kontra
Kamis, 05 Juli 2018

Hadirnya Bitcoin (dan mata uang sejenisnya) turut mengundang pro dan kontra. Bagi yang pro, Bitcoin dianggap sebagai sistem yang brilian dan merupakan jenjang baru dari evolusi mata uang. Sedangkan bagi kalangan yang kontra, Bitcoin dianggap berbahaya.

KEMBALI KE KOPERASI ? KENAPA TIDAK ?
Senin, 10 Juli 2017

Konon lebih dari 80 persen kekayaan nasional kita dikuasai oleh kurang dari 1 persen jumlah penduduk negeri ini, sebuah ketimpangan yang nyata dan berbahaya. Di negeri yang konstitusinya dengan jelas menyebutkan bahwa perekonomian disusun atas azas kekeluargaan (Pasal 33 UUD 1945).

Konsultasi Syariah: Transaksi Tawarruq
Senin, 01 Oktober 2018

Menurut standar syariah internasional, tawarruq munadzam itu hanya dibolehkan karena ada kebutuhan, di antaranya mengatasi likuiditas antarbank. Kesimpulan hukum ini berdasarkan telaah terhadap pendapat para ulama salaf dan pendapat otoritas fatwa internasional terkait dengan tawarruq.

WASPADA RENTENIR ONLINE !!!
Senin, 24 Desember 2018

Di era internet ini, kanal pinjaman semakin banyak tersedia. Bila dahulu, kita hanya mengenal bank, lembaga pembiayaan (multifinance), koperasi, maka di era internet ini kita mengenal Peer to Peer Lending, fintech lender, fintech aggregator, sampai rentenir online.

Anggota GAKOPSYAH

Jl H Sara RT 02/10 No. 01 Kel Cimpaeun Kec Tapos Depok

Bandung

Jl. Banjarlayungan No. 32 Ds. Talaga Wetan, Kec. Talaga, Kab. Majalengka, Jawa Barat

Konsultasi Ekonomi Syariah

Konsultasi Ekonomi Syariah bersama DPS GAKOPSYAH Klik Disini

Lihat Semua Konsultasi
Jadwal Shalat

PENYESUAIAN JADWAL SHALAT UNTUK SELURUH DAERAH DI JAWA BARAT :

Kota Koreksi (menit) Kota Koreksi (menit)
Banjar - 3 Bekasi + 3
Bogor + 3 Ciamis - 3
Cianjur + 2 Pangandaran - 3
Cirebon - 3 Depok + 3
Garut - 1 Indramayu - 3
Karawang + 2 Kuningan - 3
Majalengka - 2 Purwakarta + 1
Subang - 1 Sukabumi + 3
Sumedang - 1 Tasikmalaya - 2
Lokasi Kami
Statistik Pengunjung
Content View Hits : 63.025

Copyright 2017, GAKOPSYAH JAWA BARAT.