Artikel GAKOPSYAH
HUTANG DAN INFLASI
Selasa, 23 Oktober 2018
HUTANG DAN INFLASI

HUTANG DAN INFLASI  
Bab 1 : Tambahan Karena Inflasi Apakah Riba?
Fulus adalah uang logam yang biasanya terbuat dari tembaga. Pada awal kemunculannya fulus hanya dipakai sebagai uang secondary atau pelengkap dari emas dan perak. Di mana pada awalnya fulus memiliki nilai rendah dan hanya digunakan untuk membeli barang-barang murah yang tidak mencapai nilai satu dinar atau dirham.
Lalu kemudian pemakaian fulus sebagai alat tukar berkembang pada tahun 784-791 H. Bahkan nilai fulus pernah mengalami kenaikan, dimana pada awalnya 1 dinar sama dengan 480 fulus, pada tahun 630 H nilai fulus naik secara drastis sehingga 1 dinar sama dengan 18 fulus.
Kesamaan karakter antara uang kertas dan fulus adalah keduanya sama-sama memiliki nilai ekstrinsik yang lebih besar dari pada nilai intrinsiknya. Di samping itu, keduanya juga mengalami fluktuasi nilai yang signifikan. Sehingga untuk mengetahui sejauh mana pengaruh inflasi uang kertas dalam utang- piutang, lebih dahulu kita telusuri bagaimana para ulama memandang fenomena fluktuasi nilai tukar pada fulus yang berlaku saat itu.  

Bab 2 : Naik-Turunnya Nilai Tukar Uang Terhadap Utang
A.   Uang Emas dan Perak
Pada jenis uang yang pertama, yaitu yang terbuat dari emas dan perak naqdain )الخلقية النقود(para ulama sepakat bahwa orang yang berutang wajib mengembalikan dengan nominal yang sama pada saat meminjam.Tidak boleh ada tambahan. Dengan mengabaikan naik-turunnya nilai tukar uang tersebut.
B.    Uang selain Emas dan Perak Namun berbeda halnya jika berbicara mengenai uang selain yang terbuat dari emas dan perak yang tidak   mempunyai   nilai   intrinsik   )االصطالحية    النقود(. Melainkan mempunyai nilai karena kesepakatan masyarakat atau pengakuan dari pemerintah sebagai alat tukar seperti mata uang yang kita gunakan sekarang.Dalam hal ini para ulama terbagi ke dalam tiga pendapat tentang apakah yang wajib dibayar oleh peminjam ketika uang itu mengalami kenaikan atau penurunan nilai tukar.
1.    Jumhur Ulama menganggap bahwa uang itu termasuk ke dalam barang mitsliyyat yang harus dikembalikan dengan jumlah yang sama dengan pada saat diutangkan terlepas dari naik- turunnya nilai tukar uang tersebut. Sama halnya dengan barang-barang mitsliyyat yang lain seperti beras, telur dan lain-lain.
2.    Abu Yusuf memandang bahwa jika terjadi naik-turun pada nilai tukar uang selain emas dan perak (fulus), maka yang wajib dibayarkan ketika berutang adalah nilai uang pada saat utang itu dilunasi. Jika nilai uangnya turun (inflasi) maka secara otomatis pelunasannya menjadi lebih besar. Sebaliknya, jika nilai uangnya naik (deflasi), pelunasannya menjadi lebih kecil.
3.     Pendapat Syadz dari Malikiyyah yaitu pendapat yang tidak masyhur dari kalangan Malikiyyah membedakan antara fluktuasi yang terjadi dalam level yang tinggi dengan naik-turun nilai tukar uang yang sifatnya rendah. Jika kenaikan atau penurunannya dalam tingkat tinggi, maka hal itu berpengaruh pada pelunasan utang. Sehingga yang dibayar adalah sejumlah uang dengan nilai tukar pada waktu pelunasan. Sedangkan jika naik-turunnya sedikit, dianggap tidak berpengaruh, sehingga tetap yang wajib dibayarkan adalah nominal yang sama dengan nominal uang yang dipinjam.  

Bab 3 : Inflasi vs Riba
A.   Riba dalam Hutang-piutang Nilai tambah dari utang ini bentuknya bisa bermacam-macam. Dilihat dari bentuk nilai tambahnya, bentuk perjanjiannya dan lain-lain. Di mana masing-masing memiliki hukumnya: Tambahan Yang Disyaratkan Salah satu bentuk pinjaman komersial adalah jika ada tambahan terhadap pokok utang yang disyaratkan di awal. Bentuk tambahan tersebut bisa berupa materi, jasa, atau pemanfaatan suatu benda. Jika diklasifikasikan, bentuk tambahan yang disyaratkan tersebut bisa dibagi ke dalam beberapa jenis bentuk, di antaranya:
a.       Jumlah Atau Ukuran
b.      Pemanfaatan Benda
c.       Jasa Atau Pekerjaan
d.      Kualitas Yang Lebih Baik
Tambahan Pelunasan Utang yang Tidak Disyaratkan
a.       Hadiah Sebelum Melunasi Utang
b.      Hadiah Saat Melunasi Utang
c.       Kualitas yang Lebih Baik  

B.   
Ganti Rugi Karena Inflasi
Tambahan pelunasan utang akibat inflasi (ta’widh), dianggap sebagai ganti rugi atas turunnya nilai tukar uang yang diutangkan karena tergerus oleh inflasi. Yang mana, ganti rugi tersebut dibebankan kepada orang yang berutang. Sebab, orang berutang dalam hal ini berlaku sebagai yad dhaman atau pihak yang wajib menjamin harta yang dipinjamnya kembali ke tangan pemberi pinjaman dengan nilai yang sama persis dengan pada saat harta itu dipinjam, bagaimanapun keadaanya.
Prinsip ganti rugi ini, berbeda dengan tambahan yang bersifat riba sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sebab tambahan akibat inflasi tidak diperjanjikan di awal dengan nilai tambahan yang ditentukan. Melainkan tambahan tersebut dihitung pada saat melunasi, dengan menghitung tingkat inflasi yang terjadi pada saat itu.
Jika inflasi itu terjadi, maka dihitung berapa tingkat inflasinya. Tetapi jika tidak terjadi, maka tidak ada tambahan yang dibayarkan. Berbeda halnya dengan riba, di mana tambahannya diperjanjikan di awal dengan jumlah tertentu yang disepakati.    



Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hutang dan Inflasi dalam Perspektif Fiqih Muamalah Penulis : Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Artikel Lainnya
PERINTAH MENUNAIKAN AMANAH
Kamis, 22 November 2018

‘Hai anakku, Sesunguhnya, aku merasa bahwa aku akan dibunuh pada hari ini sebagai seorang yang dizalimi. Sesungguhnya salah satu kesusahanku yang terbesar adalah hutangku. Apakah engkau menyangka bahwa hutangku masih menyisakan harta walau sedikit?’

FIQIH UANG ELEKTRONIK
Jum'at, 15 Desember 2017

Apa itu E – Money ?

Selasa, 09 Mei 2017

BMT adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasionalkan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kaum fakir miskin.

MENYEGARKAN KEMBALI KOPERASI DENGAN INOVASI
Kamis, 31 Januari 2019

Banyak diskusi dan seminar biasanya berujung pada kesimpulan klise, "peran pemerintah perlu ditingkatkan", "kemandirian koperasi harus dibangun", "koperasi butuh modal", "gerakan koperasi lemah" dan seterusnya.

Anggota GAKOPSYAH

Jl. Raya Imam Bonjol, Kel. Bobos, Kec. Dukupuntang, Cirebon

Jl. Siaga No. 25 Komplek Pertanian, Kel. Loji, Kec. Bogor Barat, Bogor, Jawa Barat 16117

Jl. Ir.H.Juanda, Kel.Panyingkiran Rt.002/006, Indihiang, Tasikmalaya

Konsultasi Ekonomi Syariah

Konsultasi Ekonomi Syariah bersama DPS GAKOPSYAH Klik Disini

Lihat Semua Konsultasi
Jadwal Shalat

PENYESUAIAN JADWAL SHALAT UNTUK SELURUH DAERAH DI JAWA BARAT :

Kota Koreksi (menit) Kota Koreksi (menit)
Banjar - 3 Bekasi + 3
Bogor + 3 Ciamis - 3
Cianjur + 2 Pangandaran - 3
Cirebon - 3 Depok + 3
Garut - 1 Indramayu - 3
Karawang + 2 Kuningan - 3
Majalengka - 2 Purwakarta + 1
Subang - 1 Sukabumi + 3
Sumedang - 1 Tasikmalaya - 2
Lokasi Kami
Statistik Pengunjung
Content View Hits : 54.051

Copyright 2017, GAKOPSYAH JAWA BARAT.