Artikel GAKOPSYAH
PERANG MELAWAN MISKIN PIKIRAN
Rabu, 24 Januari 2018
PERANG MELAWAN MISKIN PIKIRAN

PERANG MELAWAN MISKIN PIKIRAN 

“Miskin harta itu gampang sembuhnya, cukup dengan bekerja. Tetapi kebanyakan orang itu bukan bukan miskin harta; mereka
miskin pikiran!”


 Ya, penyakit “miskin pikiran” inilah yang sesungguhnya hingga kini menjangkiti banyak kalangan di Indonesia dan masih belum bisa disembuhkan, apalagi dibabat habis. Miskin pikiran membuat orang terhambat meraih sukses dalam kehidupan.

Tulisan singkat ini mengajak kita mengubah pola-pikir (Mindset) untuk lebih kreatif, lebih inovatif, dan lebih berani membuat berbagai terobosan baru yang radikal dalam menyiasati dan mengatasi berbagai problem yang kita hadapi.
  Membaca dari judulnya nya saja membuat kita ingin tahu, apakah miskin pikiran dan bagaimana cara melawannya ?  Paling tidak ada 4 hal untuk melawan miskin pikiran yaitu :

  1.  Melawan dengan pendidikan Di Jepang membuang sampah pada tempatnya bukan hanya teori tapi menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi sebuah tanggung jawab bersama bukan tanggung jawab petugas kebersihan saja. Seharusnya ketika semua sudah tahu mengenai membuang sampah dengan kesadaran diri dan melekat melakukannya dimana dan kapanpun tanpa harus diingatkan. Ide tentang pendidikan ini juga dikaitkan dengan pendidikan formal dari Penddikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Pendidikan harus membuat pelajar dan mahasiswa yang sudah mendapatkan teori di ruang kelas/kuliah harus dengan kesadaran diri dan melekat pada diri mereka untuk memperluas, memperkaya diri untuk menunjang pilihan mereka mau jadi apa nantinya. Pendidikan bukan hanya sebatas memberikan materi teori tapi harus lebih luas dari itu. Ada empat kata dalam menjalani proses pendidikan yang harus dicermati: dream, vision, plan dan habit. Empat kata itu harus dimaknai dengan sungguh-sungguh agar belenggu miskin pikiran bisa terbuka tuntas. 
  2. Melawan dengan akal sehat Saat seseorang gagal mengikuti tes beasiswa, yang dilakukan adalah sadar bahwa dia telah gagal dan kemudian harus bangkit kembali. Sadar tanpa harus menambah dan mencari alasan lain untuk menghibur diri, sadar karena memang realita yang terjadi adalah gagal mendapatkan beasiswa itu. Ketika kita sadar dengan sepenuhnya maka untuk bangkit kembali akan mudah untuk kita memperluas persiapan untuk mencoba lagi. Sekolah itu penting. Tetapi yang lebih penting lagi adalah menyiapkan atau membangun pola pikir. Pola pikir akan menentukan tingkah laku. Ia akan menentukan gagal atau susksesnya kita.
  3. Melawan dengan kedisiplinan Semua kesuksesan berawal dari disiplin dalam semua aktifitas hidup manusia. Pengalaman seseorang ketika menjadi mahasiswa dan pekerja di jepang, dimulai dari saat dia mempelajari bahasa asing, penguasaan bahasa asing bisa dilakukan jika dengan disiplin tinggi dan kemauan yang sungguh-sungguh. Sudah menjadi rahasia umum jika sebutan negatip kerap dilekatkan pada tenaga kerja Indonesia misalnya malas. Sang Mahasiswa pun mengalami hal itu tapi dia membuktikan bahwa apa yang sering dilekatkan pada tenaga kerja Indonesia tidak berlaku padanya. Dimulai dari saat dia mempelajari bahasa asing, penguasaan bahasa asing bisa dilakukan jika dengan disiplin tinggi dan kemauan yang sungguh-sungguh. Mengerjakan tugasnya tepat waktu walau tidak harus lembur di akhir pekan dan menjadi kreatif
  4.  Melawan dengan kerja Kerja bukan hanya untuk mempunyai penghasilan saja, seharusnya kerja adalah membangun portofolio. Portofolio yang dimaksud adalah satu set kemampuan yang bisa kita tawarkan untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya daftar jabatan pekerjaan kita saja tapi isinya yaitu kemampuan dan peran apa yang sudah kita mainkan dalam organisasi pekerjaan tersebut. Jangan mau pergi-pagi pulang-petang sekedar mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan pada kita tanpa pernah tahu peta jalan yang akan kita lalui di masa depan. Tanpa peta itu, kita hanya akan jadi pengembara di ruang kantor kita sendiri.  


Dikutip dari “Melawan Miskin Pikiran, Memenangkan pertarungan hidup ala Kang Hasan”

Artikel Lainnya
HUTANG DAN INFLASI
Selasa, 23 Oktober 2018

Tambahan Karena Inflasi Apakah Riba?

Kiat Agar Utang Lekas Terbayar
Senin, 17 Desember 2018

Utang, acap kali menjadi cara satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mendesak. Berutang juga merupakan jalan yang kerap di tempuh orang untuk menutupi hasrat dan ambisi duniawi seseorang.

BOLEHKAH JUAL HARTA WAKAF ?
Rabu, 31 Oktober 2018

Pada dasarnya subtansi dari berwakaf adalah menginfaqkan harta dijalan Allah, dengan menahan harta tersebut atau mengkekalkan pokoknya, dan menyalurkan manfaatnya secara terus menerus.

KEMBALI KE KOPERASI ? KENAPA TIDAK ?
Senin, 10 Juli 2017

Konon lebih dari 80 persen kekayaan nasional kita dikuasai oleh kurang dari 1 persen jumlah penduduk negeri ini, sebuah ketimpangan yang nyata dan berbahaya. Di negeri yang konstitusinya dengan jelas menyebutkan bahwa perekonomian disusun atas azas kekeluargaan (Pasal 33 UUD 1945).

Anggota GAKOPSYAH

Jl. Kayu Ambon No. 48, Kel. Lembang, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat 40391

Jl. Padasuka No. 160 RT02/RW03, Kel. Pasir Layung, Kec. Cibenying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat

Konsultasi Ekonomi Syariah

Konsultasi Ekonomi Syariah bersama DPS GAKOPSYAH Klik Disini

Lihat Semua Konsultasi
Jadwal Shalat

PENYESUAIAN JADWAL SHALAT UNTUK SELURUH DAERAH DI JAWA BARAT :

Kota Koreksi (menit) Kota Koreksi (menit)
Banjar - 3 Bekasi + 3
Bogor + 3 Ciamis - 3
Cianjur + 2 Pangandaran - 3
Cirebon - 3 Depok + 3
Garut - 1 Indramayu - 3
Karawang + 2 Kuningan - 3
Majalengka - 2 Purwakarta + 1
Subang - 1 Sukabumi + 3
Sumedang - 1 Tasikmalaya - 2
Lokasi Kami
Statistik Pengunjung
Content View Hits : 54.052

Copyright 2017, GAKOPSYAH JAWA BARAT.